GORONTALO

Kamis, 16 Juli 2009 | |

atangnya 2009 ditandai dengan ‘Tahun Kunjungan Gorontalo’ yang digagas ketika Sdr. Nurdin Mokoginta masih menjadi kepala diparsbud Gorontalo. Iwan Fals sempat membantu pencanangan tahun kunjungan wisata ini dalam salah satu shownya di Gorontalo dan juga lewat stasiun televisi Mimoza .

Ketika tahun kunjungan ini dicanangkan, saya langsung menyurati Gorontalo 1 (baca: gubernur) untuk memajukan atau mengundurkan tahun pelaksanaannya . 2009 saya melihatnya sebagai tahun pemilu, dan hiruk pikuk pemilu pastilah sangat mengganggu arus kedatangan wisatawan yang banyak ditakut-takuti dengan beragam ‘travel warning’ dari pemerintah masing-masing negara dan yang paling parah jika mereka memaksakan kunjungannya ke indonesia, dan terjadi sesuatu misalnya, claim asuransinya bakal tidak dibayarkan oleh pihak asuransi. Dalam tahun 2008 ini saya sempat mendatangi Sdr. A.W. Thalib dan terakhir Sdr. Henry Dju’una yang menjadi komandan kapal pariwisata propinsi Gorontalo .

Akhir november yang baru lewat saya menyempatkan mengirim sms ketika melewati Cagar Alam Tangale di kampung Tibawa (Kabupaten Gorontalo), mengingatkan Sdr. Natsir Tulie dari kabupaten gorontalo untuk menaruh tanda dimana kawasan cagar alam tersebut berada. Sayang jawabannya bahwa beliau sudah digantikan oleh kepala yang baru. Sebelumnya saya sudah mengingatkan agar supaya tanda kawasan cagar alam tersebut dipasang, karena akan menggunakan daya tarik dari propinsi Gorontalo Utara (Uanengo dan sekitarnya) untuk memasarkannya .

Kita telah kehilangan momentum untuk memasarkan Gorontalo hanya karena yang duduk di pariwisata kita tidak peduli atau boleh dikatakan setengah hati untuk memasarkan Gorontalo. Dari festival danau Limboto yang diselenggarakan di lapangan taruna dan pesta adat (bulan mei lalu), dari pemilihan no’u uti yang kedodoran dan paling akhir kemilau sulawesi yang gagal total .

Kalau kepala diparsbud Gorontalo tidak menguasai bidangnya, bukankah demikian banyak staff di bawah atap ditjen diparsbud yang bisa menangani hal ini ? jadi apakah tugas dan kewajiban demikian banyak karyawan yang bernaung di bawah diparsbud kalau tidak menguasai sesuatu atau tidak dapat berbuat sesuatu? tidak malukah hanya makan gaji buta? sementara tidak melakukan sesuatu buat pariwisata Gorontalo ?

Jadi ingat ketika kemilau sulawesi berlangsung. Ketika propinsi yang dijadwalkan tidak dapat melakukan tugas mereka mengisi acara, koq pihak tuan rumah dalam hal ini pihak diparsbud gorontalo tidak dapat langsung menangani acara untuk menggantikannya dengan acara dari propinsi Gorontalo sendiri . bukankah ini kesempatan yang kita buang percuma.

Masih dalam kemilau sulawesi gorontalo, tidak ada satupun karyawan dari diparsbud Gorontalo yang berinisiatif membuat sebuah daftar sederhana yang dapat dibagikan kepada peserta pameran mengenai tempat wisata menarik dari gorontalo, makanan apa saja yang dapat dicicipi mereka dan bisa dibeli restoran yang mana saja. Hal yang sesederhana seperti ini koq nggak bisa diciptakan oleh karyawan-karyawan di diparsbud .

Acara festival adat dalam bulan mei 2008 yang ‘hanya meriah’ ditonton oleh para petinggi kita sendiri, terus kemana promosi yang seharusnya kita lakukan buat tahun kunjungan wisata ini?

Oktober 2008 ini saya mengkhususkan waktu saya untuk membantu kalau-kalau diparsbud Gorontalo membutuhkan konsultan untuk Asian Beach Games yang disiarkan di 45 negara dari seluruh dunia ini. Karena tidak melihat tanda-tanda diparsbud gorontalo tidak bergerak, saya langsung menyambar tawaran yang saya peroleh dari 2 travel di jakarta, sehingga waktu saya tidak terbuang percuma dan saya sendiri masih berhasil meraup dollar dan euro. Saya hanya mendengar dari bung Ramang Demolinggo bahwa last minute mendapatkan tilpon dari diparsbud gorontalo akan apa yang harus dilakukan. Ketika sudah saatnya asian beach games akan berlangsung, ketika semuanya sudah sangat terlambat.

Bandara kita, Toloti’o masih sangat kotor toiletnya, ketika berada di bandara 7 desember lalu saya sempat mengatakannya kepada petugas yang masih menunggu salah satu penerbangan yang ‘delayed’, saya juga mengeluhkan kondisi pelataran parkir yang sangat kotor dengan aneka sampah . syukur ketika saya balik dari terminal vip , ketika saya balik ke terminal penumpang , sudah menjadi bersih .

apa yang dapat kita lakukan sekarang ?

1) Benahi kamar kecil bandara toloti’o dan tempat tempat umum yang mungkin dikunjungi wisatawan , termasuk di pusat belanja gorontalo .
2) Adakan ‘crash program’ pemeriksaan semua rumah makan/restoran dari segi kebersihan , pendidikan cara melayani pelanggan .
3) Dengan koordinasi instansi terkait untuk menertibkan knalpot bising , sound system dan pengeras suara dari bentor , dan rumah-rumah ibadah .
4) Hidupkan sanggar-sanggar tari lokal untuk mendidik budaya lokal yang dapat dijual kepada wisatawan , dengan memasukkannya ke dalam pendidikan ekstra kurikuler yang positif .
5) Hidupkan dan bimbing usaha-usaha kerajinan krawang , upia karanji , polulutube ,kue kering , pia gorontalo dsbnya .
6) Penguasaan internet bagi karyawan diparsbud untuk memudahkan pemasaran dan pembenahan situs-situs informasi dan promosi diparsbud gorontalo .

Usaha dan pembenahan di atas tidak membutuhkan anggaran khusus , hanya dengan sedikit inovasi, insya Allah dapat dijalankan .

Daripada pariwisata kita tidak bergerak, bukankah dengan demikian kita bisa membangun pariwisata kita dengan usaha sendiri , dan yang duduk di pariwisata tidak makan gaji buta! Semoga kita mau bangkit ! (Totti Lamusu)

0 komentar: